Langsung ke konten utama

KERAS KEPALA

 Dari Sang anak yang bodoh

       Pagi hari kadang sudah kudengar denting piring beradu dengan sendok dibelakang ruang dapur, ternyata sang ibu sudah benahi kotoran sisa makan semalam.

     Ku beranjak membilas wajah dari air liur yang mengalir semalaman, ingin ku bantu namun ku malu. Terdengar lontaran kata " Mau jadi apa? Dasar pemalas!!!", muncul ego singkat, bahwa ku lelah sehabis kerja kemarin dan lelah mengerjakan tugasku, entah apa aku mulai mengeras seperti batu. Kudiam dengan emosi yang tak berguna, seperti air yang menggenang tanpa aliran. Setiap kata yang keluar dari mulut ibu seakan menusukku, tapi bukan karena kesalahannya melainkan karena kebenaran yang ada di balik kata-katanya. Aku tahu, aku seringkali abai, terlalu tenggelam dalam dunia sendiri, melupakan hal-hal kecil yang begitu berarti baginya.

     Aku tahu, punggung yang semakin bungkuk itu membawa beban yang lebih dari sekadar pekerjaan rumah tangga. Ada rasa lelah yang tak terucap, ada pengorbanan yang tak pernah diminta balasannya. Tapi di balik itu semua, aku hanya bisa memendam diam, tenggelam dalam kesibukan diri, seakan-akan tanggung jawabku lebih besar dari cinta dan perhatian yang diberikannya setiap hari.

         Sungguh, aku ingin meminta maaf, tapi sering kali kata-kata itu tersangkut di tenggorokan, terjebak oleh ego yang seharusnya kubuang jauh-jauh. Ibu, mungkin aku belum tahu bagaimana caranya menjadi anak yang baik, mungkin aku terlalu bodoh untuk memahami bahwa kau hanya ingin aku peduli sekadar menengok dan berbagi beban yang kau pikul dalam sepi.

     Pagi itu, aku hanya bisa menatap punggungnya yang sibuk membersihkan, tanpa berani menghampiri. Di sudut hatiku, aku ingin memeluknya dan berkata, "Ibu, aku tak ingin jadi anak yang kau anggap pemalas. Maafkan aku, aku akan berubah." Tapi sekali lagi, aku kalah oleh bisikan malas yang menggeliat dalam benakku. Dan begitu pagi beranjak siang, aku pun pergi, membawa kebodohanku seperti biasa tanpa sepatah kata.

    Namun, jauh di lubuk hati, aku tahu: suatu hari, aku harus kembali dalam dekapnya. Aku harus melepaskan ego dan belajar arti mencintai, sebelum terlambat dan semua tinggal kenangan yang tak bisa lagi kugapai lagi. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ANTARA SOROTAN DAN SUNYI

"Di layar yang tak pernah tidur, aku belajar mengenal diriku dari angka, dari tanda suka, dari suara yang bahkan tak mengenalku. Aku pernah percaya bahwa diterima berarti bahagia, bahwa ramai berarti bernilai, padahal sunyi sering lebih jujur menyebut namaku sendiri. Di antara unggahan dan penghakiman, aku bertanya pelan: "apakah aku hidup atau sekadar terlihat hidup?" Ada hari-hari  di mana keberanian bukan tentang melawan,  melainkan memilih diam dan tetap berjalan  meski tak semua mata setuju. Aku belajar bahwa tidak semua penilaian harus dipeluk, tidak semua penolakan adalah kehilangan, dan tidak semua yang pergi membawa serta nilainya dariku. Di dunia yang gemar membandingkan, aku memilih bertumbuh bukan lebih tinggi dari siapa pun, melainkan lebih jujur dari diriku kemarin. Maka jika aku tak disukai, biarlah. Selama langkahku masih setia pada nilai yang kutanam sendiri, aku tahu aku sedang hidup, bukan sekadar disukai. Untukku dan sorotan perjalananku

DI ANTARA SYUKUR DAN WASPADA

Malam ini terasa lebih tenang dari biasanya. Seolah semesta sedang berbisik pelan, mengingatkanku untuk berhenti sejenak… dan bersyukur. Aku melihat diriku hari ini, berdiri di titik yang dulu hanya sebatas harapan. Pekerjaan yang baik, lingkungan yang hangat, orang-orang yang datang dengan senyum tulus—atau setidaknya terlihat demikian. “Bukankah ini yang dulu kamu minta?” batinku bertanya pelan. “Iya,” jawabku, “dan aku bersyukur… sungguh.” Namun hidup mengajarkanku satu hal, bahwa kebaikan dunia tak selalu datang tanpa bayangan. Di balik ramahnya manusia, selalu ada ruang untuk berhati-hati. Bukan untuk curiga berlebihan, tapi untuk menjaga diri tetap utuh. “Apakah kamu takut?” suara itu kembali hadir. “Bukan takut,” kataku, “hanya belajar bijak. Belajar melihat tanpa harus menutup hati.” Aku ingin tetap percaya, bahwa masih banyak kebaikan yang layak dijaga. Aku ingin tetap menjadi seseorang yang tulus, tanpa kehilangan arah karena luka yang mungkin datang. Malam ini aku tidak hany...

DALAM BEKU WAKTU

 Dari si terbelanggu  Seorang filosof pernah berkata bahwa dunia ini adalah hal yang sederhana begitupula kehidupan ini, tetapi dalam hal sederhana pasti ada hal rumit di dalamnya, seperti diri yang selalu merasa bisa melakukan berbagai hal tetapi tidak bisa merasakan hadirnya. sungguh ironi jiwa yang selalu terjebak dalam hal yang begini, ku merasa dingin dan hampa dengan apa yang dikerjakan karena memang selalu dalam dekap dinginya waktu yang membuat penuh sesak entah diri ini akan kemana jua. untukmu yang masih dalam masa dan waktu yang sama, ku berharap bisa mengisi kehangatan diri di dalamnya. salam dekap waktumu.